Kehidupan?

Sejak bulan april kemarin saya bekerja di perusahaan kecil sebagai Web Developer. Sembari kuliah, saya harus bekerja 8 jam setiap hari. Sejauh ini saya menikmatinya. Bekerja di lingkungan yang nyaman dan ramah. Saya sangat menikmati kondisi seperti ini, kuliah sambil bekerja dimana bekerja pun saya banyak mendapatkan pengalaman dan kesempatan untuk mempraktikan apa yang saya pelajari dan mengamati kebutuhan pasar di dunia IT.

Belum lama ini, saya bertemu seorang kawan lama yang sekarang juga bekerja di bidang IT . Dia mengeluh kepada saya tentang jam kerja di tempat dia bekerja. Dia berkata bahwa dia sering diminta untuk bekerja lebih dari semestinya(lebih dari 8 jam perhari). Dia tidak ingin menjadi freak dan kalimat terakhir pada waktu yang dia ungkapkan adalah “Kayak gak punya kehidupan, Riz!”

Sejak perbincangan itu saya mulai berpikir “Apakah saya memiliki hidup?”. Sebagai seorang mahasiswa yang sekaligus bekerja full time(8 jam perhari) sebagian besar bahkan bisa dibilang semua waktu saya habis untuk masalah akademis dan bekerja. Sangat sedikit waktu saya untuk bermain dan bersenda gurau seperti dengan teman-teman saya seperti sebelum saya bekerja. Apakah itu yang dimaksud ‘kehidupan’ oleh kawan saya tadi?

Lalu saya teringat dengan ungkapan “Live your life” yang memiliki makna to spend your life doing what you want usually because something is no longerstopping you from doing so. Saya mengartikannya dengan menikmati segala hal yang kita lakukan, baik itu bekerja, belajar maupun bermain.

Ketika kita menikmati suatu kegiatan baik itu bekerja, belajar, maupun bermain, berarti kita hidup dan didalamnya dan kita memiliki hidup disana. So, love what you do and obsessed with it!

Gambar

OTORITAS & OTORITER

Status Prof. Fahmi Amhar tgl 2 Januari 2014

OTORITAS & OTORITER

Seorang pimpinan memang punya otoritas (wewenang) untuk mengangkat atau memberhentikan para pembantunya, kapanpun, bahkan boleh tanpa memberi alasan. Namun kalau dia musyawarah dulu, alasannya rasional, maka dia tidak akan dicap otoriter (sewenang-wenang).

Seorang imam sholat punya otoritas (wewenang) untuk membaca surat apa saja yang disukainya setelah Al-Fatihah di rokaat 1 & 2, tanpa harus bertanya pada jama’ahnya. Namun kalau dia peduli pada kondisi jama’ahnya, maka dia tidak akan dicap otoriter (sewenang-wenang).

Demikian juga, seorang suami dalam ajaran Islam memang punya otoritas (wewenang) untuk menikah yang ke-2,3,4 (polyginy) tanpa minta ijin istri pertama. Namun kalau dia mempersiapkan dulu istri dan anak-anaknya pada “sesuatu perubahan” (paling tidak alokasi waktunya akan berubah), alasannya masuk akal, calonnya masuk akal, maka dia tidak akan akan dicap otoriter (sewenang-wenang).

Sesungguhnya Rasul pernah berdo’a, “Ya Allah, permudahlah urusan hambaMu yang mempermudah urusan orang yang dalam wewenangnya, dan persulitlah urusan hambaMu yang mempersulit urusan orang yang dalam wewenangnya”.

Status 15 Juli 2013

Kamu sudah pintar?

Terkadang kita lupa untuk ‘ngaca’. Lupa untuk melihat keadaan diri sendiri. Kita sebagai mahasiswa sering lupa semester kemarin kita mengais ilmu dari dosen. Dari yang tidak tahu jadi tahu. Tapi ketika semester berakhir dan nilai keluar, mahasiswa sering mengumpat dosen. Dosen ini beginilah dosen itu begitulah, nilai random, jarang masuk bla bla bla. Merasa kalau kita ini sudah sangat pintar dan paling benar. 

Bro, aku sih mau mengingatkan saja di langit masih langit. di atasnya masih ada hal yang lebih besar lagi. Kalau mau protes ya silahkan dibicarakan baik-baik. Gak baik menurut aku kalo protesnya mengumpat dosen apalagi mengolok-olok nama beliau. Bagaimana pun beliau-beliau adalah orang yang menjembatani kita dari ranah ketidaktahuan. 

“Orang bodoh yang belajar lebih baik dari orang pintar yang bermalas-malasan” – Wejangan seorang guru

Mari #intropeksi diri. Jadi pribadi yang lebih baik tiap harinya.