OTORITAS & OTORITER

Status Prof. Fahmi Amhar tgl 2 Januari 2014

OTORITAS & OTORITER

Seorang pimpinan memang punya otoritas (wewenang) untuk mengangkat atau memberhentikan para pembantunya, kapanpun, bahkan boleh tanpa memberi alasan. Namun kalau dia musyawarah dulu, alasannya rasional, maka dia tidak akan dicap otoriter (sewenang-wenang).

Seorang imam sholat punya otoritas (wewenang) untuk membaca surat apa saja yang disukainya setelah Al-Fatihah di rokaat 1 & 2, tanpa harus bertanya pada jama’ahnya. Namun kalau dia peduli pada kondisi jama’ahnya, maka dia tidak akan dicap otoriter (sewenang-wenang).

Demikian juga, seorang suami dalam ajaran Islam memang punya otoritas (wewenang) untuk menikah yang ke-2,3,4 (polyginy) tanpa minta ijin istri pertama. Namun kalau dia mempersiapkan dulu istri dan anak-anaknya pada “sesuatu perubahan” (paling tidak alokasi waktunya akan berubah), alasannya masuk akal, calonnya masuk akal, maka dia tidak akan akan dicap otoriter (sewenang-wenang).

Sesungguhnya Rasul pernah berdo’a, “Ya Allah, permudahlah urusan hambaMu yang mempermudah urusan orang yang dalam wewenangnya, dan persulitlah urusan hambaMu yang mempersulit urusan orang yang dalam wewenangnya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s